Sabtu, 28 Juli 2012

Beranda » Keturunan Ikut Menanggung Akibatnya

Keturunan Ikut Menanggung Akibatnya

Pada zaman dinasti Qing,  pada saat pemerintahan raja Qianlong di kota Jiangyin ada seorang pelajar yang pergi mengikuti ujian tingkat daerah.

Ketika babak pertama belum selesai, pagi-pagi buta dia sudah mengemasi barang-barangnya bermaksud untuk meninggalkan kota tersebut.

Pengikut ujian yang duduk di sebelahnya merasa heran karena mengetahui bahwa dia belum menyelesaikan jawaban ujian sudah akan pergi. Lalu dia bertanya kepadanya, " kenapa ujianmu belum selesai sudah mau pergi ?" Pelajar ini dengan wajah sedih di depan para peserta ujian menceritakan alasannya meninggalkan ujian.

Rupanya ayahnya seumur hidupnya adalah seorang pejabat. Setelah ayahnya pensiun, beliau pulang ke kampungnya. Setelah sampai di kampung, ayahnya memanggil mereka 4 bersaudara ke hadapannya, dengan menangis sedih dia berkata kepada anak-anaknya, “Seumur hidup saya telah banyak melakukan kesalahan,  ketika menjadi hakim saya menerima suap sehingga menyebabkan 2 orang yang tidak bersalah di hukum mati.”

“Semalam saya bermimpi dibawa kehadapan raja neraka, seharusnya saya segera menerima hukuman, tetapi karena orang tua saya dahulu telah berbuat banyak amal, sehingga saya hanya boleh mempunyai seorang anak, dan bahkan lima kali reinkarnasi menjadi orang  miskin seumur hidup.”

“Hukuman di neraka sedang menunggu saya dan tidak dapat dihapuskan, jika anak cucu saya menjadi pejabat lagi maka hanya akan menambah dosa saya. Saya harap kalian tidak menjadi pejabat, kalian semua harus banyak berbuat amal untuk menebus dosa-dosa saya,” kisahnya.

Setelah selesai berkata ayahnya meninggal, akhirnya 3 saudaranya yang lain berturut-turut juga meninggal, hanya tinggal dia sendiri yang hidup. Dia telah mengikuti ujian menjadi pejabat selama 2 kali,  tetapi tidak lulus. 

Sehingga ketika mengikuti ujian sekali ini dan sebelum menyerahkan jawaban ujian semalam dia bermimpi, ayahnya dengan marah datang kepadanya dan berkata, “Engkau tidak boleh menentang kehendak Tuhan, kenapa engkau tidak ingat pesan saya sehingga menyebabkan dosa saya semakin besar.” Setelah berkata demikian dengan marah, dia mematikan lilin dan membalikkan meja serta semua kertas ujian, lalu menghilang.

Pelajar ini lalu melanjutkan bercerita, “Saya telah tiga kali gagal, saya sekarang menyadarinya saya tidak boleh membantah pesan ayah saya dan menyebabkan dia tambah susah, saya harus pergi ke kuil menjadi bhiksu dan berkultivasi untuk menyelamatkan arwah ayah saya.”

Semua orang setelah mendengar ceritanya menjadi tertegun, dan mengerti mengenai hubungan sebab akibat yakni berbuat baik mendapat pahala berbuat jahat akan mendapat karma.
source : kisahmotivasihidup.blogspot.com
repost by : tersedunia.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.