Kamis, 10 Maret 2011

Beranda » Peluang Usaha Budidaya Lele dan Gurami Saat ini

Peluang Usaha Budidaya Lele dan Gurami Saat ini

Ikan lele dan gurami merupakan komoditas ikan air tawar yang memilikibeberapa keunggulan, seperti teknologi pembenihan dan pembesarannyatelah dikuasai dan mudah diterapkan, telah berkembang di masyarakat dihampir seluruh wilayah Indonesia, bernilai ekonomis, dapat dilakukandalam skala rumah tangga sampai industri serta memiliki pasar lokalmaupun pasar ekspor yang sangat potensial.
Potensi lahan untukpengembangan budidaya ikan lele dan gurami berupa lahan darat masihsangat luas, mencapai sebesar 2,07 juta Ha dan baru dimanfaatkansebesar 361.971 Ha atau 17,47% dari total potensi tersebut.

Perkembanganproduksi ikan lele selama 5 tahun terakhir menunjukkan hasil sangatsignifikan yaitu sebesar 21,82% per tahun dari 69.386 ton pada Tahun2005 menjadi 145.099 ton pada Tahun 2009, begitu pula dengan guramiselama 5 tahun terakhir menunjukkan angka pertumbuhan sebesar 18,63%per tahun, yaitu dari 24.052 ton pada Tahun 2005 menjadi 46.452 tonpada Tahun 2009.

Proyeksi produksi ikan lele nasional selama2010-2014 sebesar 450 % atau rata-rata meningkat sebesar 35% per tahunyakni pada tahun 2010 sebesar 270.600 ton meningkat menjadi 900.000 tonpada tahun 2014. Sementara proyeksi produksi ikan gurame selama2010-2014 sebesar 127% atau rata-rata meningkat sebesar 5% per tahunyakni sebesar 40.300 ton pada tahun 2010 meningkat menjadi 48.900 tonpada tahun 2014.

Jenis ikan lele yang dibudidayakan danberkembang di wilayah Indonesia adalah lele dumbo, lele sangkuriang,lele afrika, lele piton dan lele paiton, sedangkan ikan gurami yangdibudidayakan di masyarakat umumnya gurami paris dan gurami swang.

Sentrapengembangan budidaya ikan lele tersebar di hampir seluruh Indonesia,terutama di Propinsi Sumut, Sumbar, Jambi, Lampung, Banten, Jabar,Jateng, DI Yogyakarta, Jatim dan Kalbar. Sedangkan sentra pengembanganbudidaya ikan gurami terkonsentrasi di Lampung, Sumsel, Sumbar, Jabar,Jateng, Jatim dan DI Yogyakarta.

Sumber benih ikan lele umumnyaberasal dari Propinsi Jawa Barat (Kabupaten Bekasi, Bogor, Sukabumi,Subang, Indramayu dan Cirebon), Jawa Timur (Kab.Tulung Agung, Blitar)dan dari kawasan budidaya ikan air tawar sekitarnya, sedangkan sumberbenih ikan gurami terkonsentrasi di Propinsi Jawa Tengah (Kab.Banyumas, Purbalingga dan Banjarnegara) dan di Propinsi Jawa Barat(Kab.Bogor, Tasikmalaya dan Ciamis) serta telah memanfaatkan sumberplasma nutfah ikan gurami di perairan umum.

Induk leleSangkuriang yang beredar di masyarakat merupakan induk unggul hasilperbaikan genetik dari BBPBAT Sukabumi, dan saat ini sedang dilakukanperekayasaan untuk menghasilkan induk lele sangkuriang generasi kedua.Untuk induk gurami, umumnya berasal dari hasil pembesaran pembudidayaberdasarkan kriteria fisik, dan saat ini sedang dilakukan pemuliaaninduk di pusat pengembangan induk (BBPBAT Sukabumi, BPBIATMuntilan-Jateng, BPPBAT Singaparna-Jabar) dalam tahap menghasilkancalon induk unggul (F0).

Budidaya ikan lele umumnya menerapkansistem monokultur di kolam tanah, bak semen, dan yang saat ini banyakberkembang adalah kolam terpal dengan padat penebaran antara 100-200ekor/m² dengan ukuran benih 7-9 cm. Bahkan budidaya ikan lele dapatdilakukan di daerah marginal (seperti di Kab.Gunung Kidul) danmemberikan hasil yang memuaskan, sehingga dimungkinkan dikembangkansecara massal. Saat ini terdapat pula kawasan pembudidayaan lele denganpola MINAKERA (Mina Kebun Rakyat) dengan pola pengembangan polikulturikan lele, gurami dan nila.

Budidaya ikan gurami umumnyadilakukan di kolam tanah secara tradisional baik monokultur maupunpolikultur dengan ikan nila dengan ratio jumlah gurami dibanding nilasebesar 3 : 1 atau dengan pola mina padi. Saat ini berkembang pulabudidaya gurami kolam dalam dengan kedalaman 3-4 meter.

Dalamusaha budidaya ikan gurami terdapat 8 segmen usaha yang telah terbuktimemperluas peluang usaha dan memberikan keuntungan bagi pembudidaya.Tetapi dari 8 segmen tersebut terdapat 2 segmen yang tidak banyakdilakukan oleh pembudidaya yaitu segmen untuk ukuran 12 dan 22 cm.

Pemberianpakan tambahan berupa pelet telah memasyarakat baik untuk budidaya lelemaupun budidaya gurami. Saat ini terdapat pembudidaya di KabupatenBanjarnegara yang menghasilkan pakan buatan untuk gurami dengankomponen bahan baku seperti ikan rucah (70%) dan bahan lain yang telahdifermentasi seperti : tepung kecambah jagung, ampas tahu, bungkilkelapa, mie (BS), roti (BS), bekatul dan ekstrak bahan alami seperti :kangkung, jahe, kunyit, bawang putih, yang menghasilkan pakan dengankandungan protein 32%, serat kasar 18% dan air 17%.

Pembuatanpakan berbahan baku lokal berupa limbah hasil pertanian (kulitkacang-kacangan, bonggol jagung) yang difermentasikan dengan penambahanbahan herbal.

Pemberian pakan tambahan berupa dedaunan seperti :daun turi, daun singkong, kleresede/cebreng, daun pepaya, lamtoro padabudidaya lele telah mulai berkembang. Demikian juga pemberian pakantambahan dedaunan pada budidaya gurami dengan jenis dedaunan bervariasiseperti daun senthe, kangkung maupun azola.

Penerapan CBIBsebagai panduan teknis untuk melakukan budidaya yang baik dan benardalam kerangka penerapan sistem jaminan mutu dan keamanan pangan belumterlaksana secara baik. Saat ini baru terdapat 11 pokdakan lele dan 10POKDAKAN gurami yang telah memperoleh Sertifikat CBIB.

Jaringanpasar telur dan benih gurami telah terbentuk, dengan sentra produsentelur gurami di Banyumas, Banjarnegara, Bogor dan Tasikmalaya denganwilayah distribusi meliputi : Kab. Blitar, Tulung Agung, Pantai UtaraJawa (Cirebon, Indramayu), Nganjuk, Klaten, Sragen, dan DI Yogyakarta,Kalsel, Kalbar, Lampung dan Jambi. Bahkan, diperoleh informasi adanyaekspor benih gurami dari Sumbar, Riau ke Malaysia.

Jaringanpasar ikan lele konsumsi sejak Tahun 2008 sampai pertengahan Tahun 2010telah diekspor dari Propinsi Jawa Timur yaitu 523,9 ton pada Tahun2008, 337,3 ton pada Tahun 2009, dan 462,6 ton pada Tahun 2010 (smp blnAgustus), dengan negara tujuan ekspor Cina,Vietnam, Korea dan UniEropa. Sementara jaringan pasar ikan gurami konsumsi banyak terdapat diJakarta yaitu sebesar 22,5 ton/hari dengan pasar utamanya adalahrestoran dan swalayan.

Diversifikasi produk olahan khususnyauntuk lele olahan sudah mulai berkembang, terbukti telah banyakindustri rumah tangga yang telah menghasilkan produk seperti : abon,nugget, keripik kulit, tulang dan sirip, sale/asap, bakso, danlain-lain.

Source : http://www.perikanan-budidaya.kkp.go.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.