Minggu, 06 November 2011

Beranda » Meraup Untung dari Sapi Perah

Meraup Untung dari Sapi Perah

Sapi perah adalah sapi yang khusus dipelihara untuk diambil susunya. Ada beragam jenis sapi perah unggul yang biasa diternakkan, antara lain sapi shorhorn, friesian holstein, jersey, brown swiss, red danish, dan droughtmaster.

Pemilihan Bibit Sapi Perah
Berdasarkan penelitian para pakar, jenis sapi perah yang paling sesuai untuk dibudidayakan di Indonesia adalah friesian holstein (FH). Adapun ciri-ciri sapi FH sebagai berikut.
• Bulu berwarna putih dengan bercak hitam.
• Berat badan sapi betina dewasa mencapai 625 kilogram, sedangkan berat sapi jantan mencapai 900 kilogram.
• Sapi betina berperilaku tenang dan jinak, sedangkan sapi jantan agak mudah marah.
• Jika diternakkan di padang penggembalaan yang baik, grazing ability (daya merumput) sapi FH akan baik juga.
• Sapi FH agak lambat mencapai dewasa kelamin. Jenis sapi ini biasanya dikawainkan pertama kali saat berumur 15 – 18 buan.
• Produksi susu sapi FH relatif lebih tinggi daripada jenis sapi perah yang lain.

Pemberian Pakan Sapi Perah
Makanan sapi perah terdiri atas tiga jenis pakan berikut.
• Hijauan berupa rumput-rumputan dan kacang-kacangan. Jenis-jenis rumput yang biasa diberikan pada sapi perah antara lain rumput gajah, rumput raja, rumput setaria, rumput benggala, rumput lapang, dan rumput BD (Brachiaria decumbens). Adapun jenis kacang-kacangan yang dijadikan pakan sapi adalah lamtoro, turi, dan gamal.
• Konsentrat berupa dedak, bungkil kelapa, bungkil kacang tanah, jagung, dan kedelai.
• Limbah pertanian, seperti jerami padi, batang jagung, batang kedelai, dan sebagainya.

Pakan berupa hijauan diberikan pada siang hari setelah pemerahan sebanyak 30–50 kilogram per ekor tiap hari. Rumusnya, setiap hari, seekor sapi perah dewasa memerlukan rumput sebanyak 10% bobot badan (BB) dan pakan tambahan sebanyak 1 – 2% BB.

Sapi perah yang sedang menyusui perlu diberi pakan tambahan sebanyak 25% hijauan dan konsentrat. Selain hijauan berupa rumput-rumputan, pakan sapi perah sebaiknya ditambah dengan kacang-kacangan.

Kebutuhan karbohidrat sapi perah dapat dipenuhi dengan memberikan dedak halus atau bekatul, ampas tahu, gaplek, dan bungkil kelapa. Sapi perah juga memerlukan mineral sebagai penguat, berupa garam dapur dan kapur.

Konsentrat sebaiknya diberikan pada pagi dan sore hari sebelum sapi diperah. Banyaknya sekitar 1–2 kilogram per ekor tiap hari.
Sapi perah juga membutuhkan air minum. Kebutuhan air minum sapi adalah 10% bobot badan per hari.

Pemeliharaan Kandang Sapi Perah
Kandang sapi perah harus dibuat terpisah dari rumah dan berjarak lebih dari 10 meter. Ukuran kandang adalah 1,5 m × 2,5 m per ekor sapi.
Agar sirkulasi udaranya lancar, kandang dibuat agak terbuka. Sebaiknya, tempat makan dan minum sapi dibuat di luar kandang, tetapi tetap terlindung di bawah atap.
Agar pakan sapi perah tidak terinjak-injak atau tercampur dengan kotoran, tempat pakan dibuat agak lebih tinggi dari permukaan lantai. Sementara itu, tempat air minum dibuat permanen berupa bak semen.

Kandang sapi perah harus dibersihkan setiap hari. Kotoran sapi sebaiknya ditampung dan ditimbun di tempat lain. Setelah dibiarkan selama sekitar 1–2 minggu, kotoran akan mengalami proses fermentasi dan menjadi pupuk kandang.

Setelah dibersihkan, lantai kandang diberi alas lantai berupa jerami atau sisa-sisa pakan hijauan. Alas lantai tersebut harus dibongkar seminggu sekali.

Perawatan dan Pemeliharaan Kesehatan Sapi Perah
Sapi perah sebaiknya dimandikan dua kali sehari. Sapi perah dimandikan setelah kandang dibersihkan dan sebelum pemerahan susu.

Beberapa penyakit biasa menyerang sapi, antara lain antraks, penyakit mulut dan kaki (PMK), penyakit ngorok (mendengkur) atau penyakit Septichaema epizootica, dan penyakit radang kuku atau kuku busuk (foot rot).

Penyakit-penyakit tersebut bisa dicegah dengan memberikan vaksinasi dan menjaga kebersihan kandang.

Pengelolaan Ternak Sapi Perah
Pengelolaan ternak sapi perah dibedakan berdasarkan umur sapi. Sapi betina berumur 1-2 tahun atau lebih yang belum pernah beranak disebut sapi dara. Sementara sapi perah yang sudah pernah beranak disebut sapi betina dewasa.

Sapi dara masih dalam masa pertumbuhan. Oleh karena itu, pemeliharaan dan pemberian pakan pada sapi dara harus diperhatikan secara serius.

Sapi betina dewasa sebaiknya diberi latihan gerak jalan. Kebersihan badan dan kesehatan kukunya harus diperhatikan dengan saksama. Peternak harus memberi perhatian lebih pada sapi betina dewasa berkaitan dengan perkembangan reproduksinya, seperti masa birahi, masa perkawinan, kebuntingan, dan beranak.

Panen Sapi Perah
Sesuai dengan namanya, hasil utama peternakan sapi perah adalah susu yang dihasilkan oleh induk sapi betina.

Kotoran sapi perah dapat dijadikan pupuk kandang. Selain itu, sapi perah yang sudah tidak produktif pun memberi hasil lain berupa daging dan kulit.

Usaha Sapi Perah di Indonesia
Sebagai salah satu hasil komoditi peternakan, susu merupakan bahan makanan yang menjadi sumber gizi atau zat protein hewani. Kebutuhan protein ini terus meningkat dari waktu ke waktu seiring tingginya tingkat kesadaran masyarakat Indonesia terhadap kebutuhan gizi. Pengembangan bidang peternakan, khususnya pengembangan usaha sapi perah adalah salah satu alternatif cara meningkatkan persediaan sumber kebutuhan protein.

Pembangunan usaha sapi perah dilakukan untuk memenuhi gizi masyarakat dan mengurangi tingkat ketergantungan nasional terhadap impor susu. Usaha susu di Indonesia sebenarnya sudah lama dikembangkan. Di sini, usaha sapi perah didominasi oleh usaha berskala kecil, yaitu terdiri atas empat ekor sapi (80 persen), empat sampai tujuh ekor sapi (17 persen), dan lebih dari tujuh ekor sapi (tiga persen).

Data ini menunjukkan bahwa kurang lebih 64 persen produksi susu nasional dihasilkan oleh usaha berskala kecil, sedangkan sebanyak 24 persen sisanya dihasilkan oleh ternak sapi perah skala menengah dan ternak sapi perah skala besar. Keadaan ini masih menempatkan usaha ternak sapi perah di Indonesia sangat kecil sehingga tidak mampu bersaing dengan produk luar. Selain itu, kondisi ini juga dapat memperlelmah daya usaha ternak sapi perah di Indonesia.

Peningkatan laju pertumbuhan sektor peternakan, khususnya ternak sapi perah harus terus dilakukan karena kemampuan pasokan susu peternak lokal sekarang baru mencapai 25 persen hingga 30 persen dari kebutuhan susu nasional. Tingginya angka impor susu nasional mengakibatkan Indonesia menjadi net importir. Bahkan, menunjukkan juga prospek pasar yang besar sekali dalam usaha peternakan sapi perah untuk menghasilkan susu segar sebagai hasil substitusi impor.

Aneka Olahan dari Susu Sapi Perah di Pangalengan
Pangalengan terkenal sebagai penghasil susu sapi perah di Jawa Barat. Sebagian masyarakat tentunya sudah mengenal dan menikmati permen susu atau karamel hasil olahan para pengrajin di Pangalengan. Selain itu, olahan dari susu perah lainnya adalah kerupuk susu, dodol susu, tahu susu, noga susu, dan lain-lain.

Makanan hasil olahan tersebut semuanya diawali dengan adanya peternakan sapi perah di Pangalengan yang memiliki sejarah panjang. Dulu, orang-orang Belanda membangun peternakan sapi perah untuk kepentingan gizi mereka. Akhirnya, peternakan sapi perah ini diambil alih oleh pribumi dan dijadikan sebagai mata pencaharian.

Para pribumi ini menjual susu sapi perah ke berbagai tempat. Kini, tak hanya susu yang dijual, tetapi makanan olahan dari susu sapi ternak juga mulai diproduksi dan dipasarkan (dodol susu, kerupuk susu, permen susu). Produk-produk olehan makanan ini banyak dijual di sepanjang jalan di Pangalengan dan pemasarannya sudah sampai ke Jakarta.

Sumber : http://www.anneahira.com/sapi-perah.htm


www.jendelahewan.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.