Kamis, 17 Februari 2011

Beranda » Bagian-bagian Tanaman Buah Naga

Bagian-bagian Tanaman Buah Naga

Pembahasan kali ini mengenai bagian-bagian dari tanaman buah naga. Pada dasarnya tanaman ini merupakan jenis tanaman memanjat. Tanaman buah naga hidup dengan cara memanjat tanaman lainnya untuk menopang dan bersifat epifit (masih bisa hidup walaupun akarnya yang ditanah dicabut). Hal itu terjadi karena tanaman ini masih bisa memperoleh makanan dari udara melalui akar yang tumbuh dibatangnya. Secara morfologis ada satu keunikan dari tanaman ini yaitu tidak memiliki daun.

Akar
Tanaman ini bersifat epifit dimana tumbuhnya merambat dan menempel pada tanaman lain. Dalam proses budidayanya, para petani biasanya membuatkan tiang penopang untuk merambatkan batang tanaman buah naga ini. Akar tanaman ini tahan terhadap kekeringan tapi justru tidak tahan terlalu lama dalam genangan air. Sekalipun akar tanaman ini dicabut dari tanah, namun masih bisa tetap hidup dengan menyerap makanan dan air dari akar udara yang tumbuh di sekitar batangnya.

Perakaran tanaman ini dapat dikatakan dangkal karena hanya mencapai kedalaman 50-60 cm saat menjelang produksi. Hal tersebut mengikuti perpanjangan batangnya yang berwarna coklat yang didalam tanah. Hal tersebut yang sering digunakan sebagai tolak ukur dalam proses pemupukan oleh para petani.

Untuk mendapatkan pertumbuhan akar yang normal dan baik, tanaman ini memerlukan derajat keasaman tanah pada kondisi ideal yaitu pH 7. Apabila pH tanah dibawah 5, pertumbuhan tanaman akan menjadi lambat dan menjadi kerdil. Dalam pembudidayaannya pH tanah harus diketahui sebelum maupun sesudah tanaman ditanam, karena perakaran merupakan faktor penting untuk menyerap hara yang ada didalam tanah.

Batang dan Cabang
Pada umumnya batang tanaman buah naga berwarna hijau kebiru-biruan, walaupun ada yang berwarna keunguan. Batang tersebut berbentuk siku atau segitiga dan mengandung air yang menyerupai lendir dan berlapiskan lilin bila sudah dewasa. Dari batang ini tumbuh cabang yang bentuk dan warnanya sama dengan batang. Fungsinya adalah sebagai pengganti daun untuk proses asimilasi dan mengandung kambium yang berfungsi untuk pertumbuhan tanaman. Pada batang dan cabang tanaman ini tumbuh duri-duri yang keras dan pendek. Letak duri pada tepi siku-siku batang maupun cabang dan terdiri dari 4-5 buah duri disetiap titik tumbuh.

Bunga
Bunga buah naga memiliki ciri menyerupai corong memanjang, berukuran sekitar 30 cm dan akan mulai mekar di sore hari namun mengalami pemekaran secara sempurna pada malam hari. .Mahkota bunga bagian luar pada umumnya mekar pada pukul sembilan malam, kemudian disusul oleh mahkota bagian dalam yang putih bersih yang meliputi sejumlah benangsari yang kuning. Dan pada akhirnya bunga yang menyerupai corong itu akhirnya mekar secara penuh pada saat tengah malam. Itulah sebabnya tanaman ini dikenal juga dengan istilah night blooming cereus. Pada saat mekar secara penuh, tanaman ini menyebarkan bau yang harum.

Buah
Buah naga sendiri memiliki ciri bentuk buah yang bulat panjang dengan bobot rata-rata sekitar 400-500 gram. Biasanya letak buah mendekati ujung cabang atau batang. Pada cabang atau batang pohon dapat tumbuh lebih dari satu buah dan terkadang dalam posisi yang berdekatan. Kulit buahnya memiliki tebal sekitar 1-2 cm dan pada permukaan kulit buah terdapat sirip atau jumbai berukuran sekitar 2 cm. Buah naga memiliki kulit berwarna merah dan sangat kontras dengan dagingnya yang berwarna putih, dimana di dalam daging buah bertebaran bijih-bijih hitam. Buah jenis ini memiliki cita rasa manis bercampur masam segar, memiliki sisik atau jumbai kehijauan di sisi luar. Kadar kemanisan buah ini tergolong rendah apabila dibandingkan dengan buah yang lainnya (kadar gulanya mencapai 13-18 briks). Pada umumnya, buah naga dikonsumsi dalam bentuk buah segar sebagai penghilang dahaga karena kandungan airnya yang sangat tinggi (90,2 persen) dari berat buah, serta rasanya cukup manis.

Biji
Bijinya berbentuk bulat berukuran kecil dan tipis tetapi sangat keras. Dapat digunakan untuk memperbanyak tanaman secara generatif. Namun cara ini jarang dipakai karena memerlukan waktu yang cukup lama sampai berproduksi. Umumnya biji banyak digunakan para peneliti untuk memunculkan varietas baru. Setiap buah mengandung lebih dari 1000 biji.

Sumber : http://bisnis-buahnaga.blogspot.com/


www.jendelahewan.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.